Mungkin terdengar seperti cerita-cerita sinetron di
televisi, tapi sayangnya, drama ini memang benar-
benar terjadi pada kehidupan saya. Awalnya ketika saya
bertemu dengan gerombolan teman kecil, teman sepermainan
ketika masih duduk di bangku SMP dulu. Ternyata, di
antara anak lelaki masa lalu yang biasa berlarian bersama
di sekolah, ada dia yang bisa mencuri perhatian dan hati
saya. Arman, begitu ia biasa ia dipanggil. Tampilannya
yang selalu terlihat dewasa ditambah kacamata melekat di
wajah, membuat sosok lelaki yang ketika masa kecil tidak
pernah saya perhatikan tiba-tiba terlihat sangat
berkharisma di hadapan saya.
Gayung bersambut, ternyata perasaan saya tidak bertepuk
sebelah tangan. Tidak lama setelah pertemuan kami saat
itu, kami pun menjalin hubungan cinta. Layaknya orang
yang baru pacaran, semua terasa indah. Apapun ingin
dilakukan bersama dengan si dia. Membangun mimpi indah
di masa depan pun tidak lepas dari bahan pembicaraan kami
berdua. Ya, hanya ada aku dan dia di dunia ini. Hanya
ada kami. Kegiatan saya sebagai pekerja kantoran dan
Arman sebagai pengusaha kecil sama sekali tidak mengganggu
hubungan kami. Kami saling dukung dalam hal moril dan
meteril. Ketika usaha Arman nyaris bangkrut, saya
bersyukur bisa berada di sampingnya dan membantunya
kembali bangkit lewat pinjaman dana yang saya berikan.
Jangankan hanya uang, demi cinta, apapun saya berikan.
Ya, alasan klise perempuan memang, demi cinta. Hingga,
saya pun berbuat terlalu jauh dengannya. Kami pun pernah
melakukan hubungan suami-istri.
hingga saat itu tiba...
Hubungan kami berjalan mulus dan baik-baik saja hingga
saat itu terjadi. Ketika itu, dia memberikan kabar pada
saya bahwa ia akan pindah kosan dan tidak bisa menemui
saya. Ya, Arman memang anak kosan. Sama sekali tidak
menaruh curiga pada perkataannya di telepon pada saat
itu, namun entah kenapa perasaan saya tiba-tiba tidak
enak. Ada bisikan kecil yang menyuruh saya untuk
mengunjungi Arman di kosannya. Akhirnya, dengan
mengendarai motor, saya melaju menuju kosannya. Begitu
tiba, saya mendapati pintu kamarnya digerendel dari luar.
Namun, saya melihat jendelanya terbuka. Lagi-lagi tanpa
curiga, saya pun memasukkan tangan melalui jendela dan
menyibakkan gorden kamarnya.
Gorden pun seperti ditahan. Tidak lama, kepala Arman
muncul di jendela. Dengan sekuat tenaga, saya kibas
gorden hingga akhirnya saya mendapatkan pemandangan yang
membuat saya terasa seperti dikubur hidup-hidup, sesak,
marah, dan ingin berontak. Saya melihat pacar saya dalam
keadaan tanpa busana dan seorang perempuan yang tengah
berbaring juga dalam keadaan tanpa busana di ranjangngya.
Di tempat yang sama ketika kami berbagi kasih dulu, kini
di depan mata saya ada perempuan lain terlentang tanpa
sehelai benangpun.
Dengan suara keras, saya memaksanya untuk membuka pintu.
Tidak bisa ditahan lagi, semua kata-kata kotor dan
mengungkit masa lalu, begitu saja terlontar dari mulut
saya. Sambil mengeluarkan makian, saya menyaksikan mereka
mengenakan pakaian setelah bercumbu. Sakit dan marah jadi
satu menguasai saya. Sempat keluar pembelaan dari mulut
Arman pada saat itu, tapi kemudian mental karena kejadian
ini memang bentuk pengkhianatannya pada cinta kami. Helm
yang saya pegang pun akhirnya melayang ke kepalanya.
Walaupun telah memukulnya dengan helm di tangan, rasanya
sakitnya tidak bisa mengalahkan rasa sakit dan sesak yang
saya rasakan. Saya puas melampiaskan amarah pada mereka
tanpa ada perlawanan. Ya, mereka pasrah dan menerima
semua kemarahan saya.
Semua seolah sudah Arman rencanakan dengan rapi, dengan
alasan pindah kos, menggerendel pintu dari luar, kemudian
puas melampiaskan nafsu dengan perempuan lain. Tapi,
ternyata insting perempuan yang kuat mendorong saya
menghampirinya hingga akhirnya terbukalah kebusukannya.
Hubungan kami yang baru berusia 7 bulan pun berakhir
dengan menyakitkan malam itu. Dengan langkah gontai, saya
meninggalkan mereka yang masih diam terpaku. Syok dengan
pemandangan yang saya saksikan, konsentrasi saya buyar
hingga kecelakaan pun tak bisa dihindari. Saya terjatuh
dari motor usai peristiwa itu.
No comments:
Post a Comment