Friday, April 9, 2021

Cinta, materi, hingga memberikan diri seutuhnya

 Mungkin terdengar seperti cerita-cerita sinetron di 

televisi, tapi sayangnya, drama ini memang benar-

benar terjadi pada kehidupan saya. Awalnya ketika saya 

bertemu dengan gerombolan teman kecil, teman sepermainan 

ketika masih duduk di bangku SMP dulu. Ternyata, di 

antara anak lelaki masa lalu yang biasa berlarian bersama 

di sekolah, ada dia yang bisa mencuri perhatian dan hati 

saya. Arman, begitu ia biasa ia dipanggil. Tampilannya 

yang selalu terlihat dewasa ditambah kacamata melekat di 

wajah, membuat sosok lelaki yang ketika masa kecil tidak 

pernah saya perhatikan tiba-tiba terlihat sangat 

berkharisma di hadapan saya.

Gayung bersambut, ternyata perasaan saya tidak bertepuk 

sebelah tangan. Tidak lama setelah pertemuan kami saat 

itu, kami pun menjalin hubungan cinta. Layaknya orang 

yang baru pacaran, semua terasa indah. Apapun ingin 

dilakukan bersama dengan si dia. Membangun mimpi indah 

di masa depan pun tidak lepas dari bahan pembicaraan kami 

berdua. Ya, hanya ada aku dan dia di dunia ini. Hanya 

ada kami. Kegiatan saya sebagai pekerja kantoran dan 

Arman sebagai pengusaha kecil sama sekali tidak mengganggu

 hubungan kami. Kami saling dukung dalam hal moril dan 

meteril. Ketika usaha Arman nyaris bangkrut, saya 

bersyukur bisa berada di sampingnya dan membantunya 

kembali bangkit lewat pinjaman dana yang saya berikan. 

Jangankan hanya uang, demi cinta, apapun saya berikan. 

Ya, alasan klise perempuan memang, demi cinta. Hingga, 

saya pun berbuat terlalu jauh dengannya. Kami pun pernah 

melakukan hubungan suami-istri.

hingga saat itu tiba...

Hubungan kami berjalan mulus dan baik-baik saja hingga 

saat itu terjadi. Ketika itu, dia memberikan kabar pada 

saya bahwa ia akan pindah kosan dan tidak bisa menemui 

saya.  Ya, Arman memang anak kosan. Sama sekali tidak 

menaruh curiga pada perkataannya di telepon pada saat 

itu, namun entah kenapa perasaan saya tiba-tiba tidak 

enak. Ada bisikan kecil yang menyuruh saya untuk 

mengunjungi Arman di kosannya. Akhirnya, dengan 

mengendarai motor, saya melaju menuju kosannya. Begitu 

tiba, saya mendapati pintu kamarnya digerendel dari luar.

 Namun, saya melihat jendelanya terbuka. Lagi-lagi tanpa 

curiga, saya pun memasukkan tangan melalui jendela dan 

menyibakkan gorden kamarnya.


Gorden pun seperti ditahan. Tidak lama, kepala Arman 

muncul di jendela. Dengan sekuat tenaga, saya kibas 

gorden hingga akhirnya saya mendapatkan pemandangan yang 

membuat saya terasa seperti dikubur hidup-hidup, sesak, 

marah, dan ingin berontak. Saya melihat pacar saya dalam 

keadaan tanpa busana dan seorang perempuan yang tengah 

berbaring juga dalam keadaan tanpa busana di ranjangngya. 

Di tempat yang sama ketika kami berbagi kasih dulu, kini 

di depan mata saya ada perempuan lain terlentang tanpa 

sehelai benangpun.

Dengan suara keras, saya memaksanya untuk membuka pintu. 

Tidak bisa ditahan lagi, semua kata-kata kotor dan 

mengungkit masa lalu, begitu saja terlontar dari mulut 

saya. Sambil mengeluarkan makian, saya menyaksikan mereka 

mengenakan pakaian setelah bercumbu. Sakit dan marah jadi 

satu menguasai saya. Sempat keluar pembelaan dari mulut 

Arman pada saat itu, tapi kemudian mental karena kejadian

 ini memang bentuk pengkhianatannya pada cinta kami. Helm 

yang saya pegang pun akhirnya melayang ke kepalanya. 

Walaupun telah memukulnya dengan helm di tangan, rasanya 

sakitnya tidak bisa mengalahkan rasa sakit dan sesak yang 

saya rasakan. Saya puas melampiaskan amarah pada mereka 

tanpa ada perlawanan. Ya, mereka pasrah dan menerima 

semua kemarahan saya.

Semua seolah sudah Arman rencanakan dengan rapi, dengan 

alasan pindah kos, menggerendel pintu dari luar, kemudian 

puas melampiaskan nafsu dengan perempuan lain. Tapi, 

ternyata insting perempuan yang kuat mendorong saya 

menghampirinya hingga akhirnya terbukalah kebusukannya. 

Hubungan kami yang baru berusia 7 bulan pun berakhir 

dengan menyakitkan malam itu. Dengan langkah gontai, saya 

meninggalkan mereka yang masih diam terpaku. Syok dengan 

pemandangan yang saya saksikan, konsentrasi saya buyar 

hingga kecelakaan pun tak bisa dihindari. Saya terjatuh 

dari motor usai peristiwa itu.


No comments:

Post a Comment

Cinta, materi, hingga memberikan diri seutuhnya

 Mungkin terdengar seperti cerita-cerita sinetron di  televisi, tapi sayangnya, drama ini memang benar- benar terjadi pada kehidupan saya. A...